Jejak Warisan Papua Yang Mencair
Foto: Gunung21 September 2026
Adripa Dwitama3 kali dibaca

Jejak Warisan Papua Yang Mencair

Kisah Salju Terakhir dan Gunung Sakral Amungme–Moni

Lapisan es di sekitar Puncak Carstensz, Pegunungan Tengah Papua, kini tinggal sekitar 2 persen dari luasnya pada 1988. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan gletser tropis terakhir di kawasan Pasifik barat daya ini habis pada akhir 2026 atau awal 2027. Bagi ilmuwan, hilangnya es ini menjadi penanda perubahan iklim. Bagi sejumlah komunitas adat di kaki pegunungan, yang menghilang adalah bagian dari gunung yang mereka anggap sakral.

Seberapa Banyak yang Tersisa

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tutupan es tinggal 0,09 kilometer persegi (sekitar 9 hektare) pada September 2025, menyusut drastis dari sekitar 4,3 kilometer persegi pada 1988. Ketebalan es di titik pantau East Northwall Firn tercatat turun dari 31,49 meter pada 2010 menjadi nol pada November 2024. Angka dari lembaga dan studi lain berbeda tipis karena perbedaan tanggal dan metode pengukuran sebagian menggunakan survei lapangan langsung, sebagian lain analisis citra satelit. Salah satu laporan resmi mencatat 16,5 hektare pada 2024, sementara studi citra Landsat menghitung 0,19 kilometer persegi pada tahun yang sama dan memperkirakan es baru akan habis sekitar 2028–2030. Hampir semua sumber sepakat bahwa es mendekati akhir, meski tahun pastinya belum Tunggal,perbedaan itu mencerminkan perbedaan metode pengukuran, bukan data yang saling bertentangan.

Mengapa Es Mencair

Secara ilmiah, suhu yang naik mengangkat batas ketinggian titik beku, sehingga hujan lebih sering turun menggantikan salju. El Niño ,merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang memicu cuaca lebih kering dan panas di Indonesia sehingga mempercepat proses tersebut. Data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pertengahan September 2026 menunjukkan El Niño tahun ini telah masuk kategori “sangat kuat” dan diperkirakan memuncak awal 2027. Penjelasan ilmiah ini sejalan dengan temuan sejumlah peneliti iklim yang meneliti gletser Papua pada awal 2026, termasuk dari Charles University, yang menyebut kombinasi pemanasan atmosfer global dan El Niño sebagai penyebab utama percepatan pencairan.

Nemangkawi, Gunung yang Dijaga Bersama

Bagi orang Amungme, gunung ini dikenal dengan nama Nemangkawi, yang berarti “panah putih”merujuk pada salju yang dulu menyelimuti puncaknya. Dalam liputan yang pernah dipublikasikan diisi setelah dikonfirmasi (BBC News Indonesia), Elfrida Natkime, perempuan muda dari keluarga pemegang hak ulayat di dataran tinggi Mimika, dikutip mengatakan bahwa Nemangkawi adalah “tempat peristirahatan orang tua dan leluhur”, dan bahwa orang tuanya mengajarkan filosofi hidup lurus seperti anak panah menjaga hubungan baik dengan diri sendiri, alam, dan sesama. Menurut catatan sejarah tahun 1970-an yang dikutip BBC, hak atas wilayah pegunungan itu dibagi menurut marga, dan tanah tidak diperjualbelikan, hanya dipinjamkan.

Di sisi utara, sebagian warga Moni di Intan Jaya menyebut puncak itu Mbainggela. Dalam liputan yang sama, Justinus Sondegau dikutip menuturkan bahwa para tetua menyebutnya sebagai tempat asal-usul, bukan hanya bagi Moni, tetapi juga bagi masyarakat Paniai, Dani, dan Nduga, sementara Magdalena Sondegau menyebut gunung itu hadir dalam nyanyian tradisional mereka. Liputan lain pada 2022 mencatat bahwa warga Moni di Ugimba menyebut puncak sakral itu dengan nama berbeda, Somatua, yang dimaknai sebagai sumber terang. Belum ada kepastian apakah nama-nama ini merujuk pada puncak yang sama persis. perbedaan penyebutan ini mencerminkan keragaman cara pandang antarkomunitas, bukan kesalahan data. Masyarakat Hubula dan Damal juga memandang kawasan ini sakral.

Di Kaki Gunung yang Sama

Sejarah pencatatan gunung ini dimulai sejak pelaut Belanda Jan Carstensz melaporkan pegunungan bersalju di Papua pada 1623. Ekspedisi Belanda mencapai lapisan es Ngga Pulu pada 1936, dan Freeport mulai menambang Ertsberg pada 1970. Berdasarkan dokumen resmi, pada 18–19 Februari 2026 pemerintah Indonesia dan Freeport-McMoRan menandatangani nota kesepahaman di Washington D.C. untuk memperpanjang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) tambang Grasberg hingga 2061, disertai komitmen investasi tambahan sekitar USD 20 miliar dan kenaikan kepemilikan saham nasional dari 51 menjadi 63 persen pada 2041. Permohonan perpanjangan izin resmi dilaporkan diajukan perusahaan pada Juni 2026. Organisasi lingkungan WALHI menyatakan kritik terhadap proses perpanjangan tersebut melalui pernyataan publik pada Februari 2026. Relasi warga adat dengan tambang tidak tunggal. Dalam liputan yang dikutip di atas, Elfrida disebut mengaku sedih melihat eksploitasi dan kemiskinan yang masih dialami sebagian keluarganya, namun ia juga tidak menampik bahwa Nemangkawi telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang. Adolfina, yang menurut liputan yang sama tumbuh di pesisir Agimuga setelah keluarganya pindah dari Tsinga pada awal 1960-an, mengenal gunung itu dari cerita turun-temurun; sebab perpindahan keluarganya sendiri masih diperdebatkan, sebagian menduga ada kaitan dengan masuknya Freeport, meski arsip kolonial yang tersedia belum menunjukkan hubungan tersebut secara pasti. Penelitian ilmiah yang ada mengaitkan pencairan es dengan pemanasan atmosfer global, bukan dengan aktivitas tambang.

Dampak yang Perlu Dipisahkan

Dari sisi ekologi, sampel es di kawasan ini diketahui menyimpan komunitas mikroorganisme dan hewan mikroskopis yang khas, sementara arsip iklim yang tersimpan di dalam inti es turut hilang sebelum sempat dipelajari secara tuntas.

Terkait air dan pangan, BMKG menyebut hilangnya es berpotensi mengganggu pasokan air dan pertanian di sekitarnya. Namun penilaian ini perlu dibaca berdampingan dengan pandangan sejumlah peneliti gletser yang menilai luas es yang tersisa saat ini sudah terlalu kecil untuk memengaruhi pasokan air secara regional . Keduanya adalah dua penilaian pada skala berbeda, bukan pernyataan yang saling bertentangan.

Sementara itu, terkait cuaca ekstrem, Kabupaten Lanny Jaya menetapkan status tanggap darurat pada 24 Agustus 2026, dengan 12.038 warga di tiga distrik terdampak kekeringan dan hujan es, serta 224 hektare lahan gagal panen di tujuh kampung Distrik Agandugume, Kabupaten Puncak. Kejadian ini berkaitan dengan cuaca ekstrem selama fase El Niño. Sejauh data yang tersedia, belum ada penetapan hubungan langsung antara peristiwa ini dengan pencairan gletser secara spesifik penting untuk tidak menyimpulkan kausalitas yang belum terbukti.

Soal Emisi

Sejumlah peneliti gletser mencatat bahwa kontribusi masyarakat adat Papua terhadap emisi gas rumah kaca global tergolong sangat kecil, meski mereka menyaksikan langsung perubahan permanen di wilayah tempat tinggalnya sebuah ketimpangan yang kerap disebut sebagai isu keadilan iklim. Indonesia secara keseluruhan berada di peringkat keenam penghasil emisi dunia. Di Papua sendiri, analisis citra satelit oleh Nusantara Atlas mencatat proyek strategis nasional Merauke sebagai penyebab terbesar hilangnya hutan primer pada 2024, disusul oleh perluasan perkebunan sawit.

Yang Hilang, dan yang Belum Pasti

Dalam liputan yang dikutip di atas, Magdalena disebut pernah memikul barang bawaan pendaki menuju Mbainggela sebanyak sembilan kali, sebelum penghasilannya dari kegiatan itu berhenti setelah jalur pendakian ditutup dengan alasan keamanan. Ini menunjukkan sebuah kisah yang menjelaskan bahwa gunung ini menyangkut nafkah dan akses warga sekitar, bukan sekadar simbol budaya.

#Gunung#Budaya#Sejarah