Monogami sering dipandang sebagai pola hubungan romantis yang ideal dalam berbagai masyarakat. Namun, praktik hubungan manusia menunjukkan keragaman, mulai dari hubungan monogami hingga consensual non-monogamy, yakni hubungan nonmonogami yang disepakati secara sadar oleh semua pihak terkait.
Salah satu bentuknya adalah open relationship atau hubungan terbuka, ketika pasangan menyepakati bahwa aktivitas romantis atau seksual dengan orang lain diperbolehkan dalam batas yang telah ditentukan. Sementara itu, cuckold fetish merupakan preferensi seksual ketika seseorang memperoleh gairah dari gagasan atau situasi pasangannya terlibat secara seksual dengan orang lain.
Kedua fenomena tersebut berbeda dari perselingkuhan karena hubungan terbuka mensyaratkan persetujuan yang jelas. Untuk memahami keduanya, peneliti dapat menggunakan perspektif psikologi, biologi evolusioner, dan ilmu saraf. Meski demikian, penjelasan ilmiah perlu dibedakan dari hipotesis yang belum terbukti secara langsung.
1. Open Relationship dan Fleksibilitas Hubungan Manusia
Dalam biologi, monogami sosial merujuk pada kecenderungan membentuk ikatan pasangan yang relatif stabil. Konsep ini tidak selalu berarti kedua individu hanya melakukan aktivitas seksual satu sama lain sepanjang hidupnya.
Manusia memiliki pola hubungan yang beragam. Faktor biologis, budaya, pengalaman pribadi, norma sosial, dan kesepakatan antarpasangan dapat memengaruhi cara seseorang membangun hubungan intim.
Sexual Strategies Theory yang dikembangkan David Buss dan David Schmitt pada 1993 membahas bagaimana strategi hubungan jangka pendek dan jangka panjang dapat dipengaruhi oleh kondisi individu serta lingkungan sosial. Namun, teori tersebut tidak membuktikan bahwa hubungan terbuka merupakan strategi evolusioner yang secara otomatis lebih menguntungkan.
Dalam hubungan terbuka, sebagian pasangan berupaya mempertahankan kedekatan emosional sekaligus memberikan ruang bagi pengalaman seksual dengan orang lain. Keberhasilan pola ini bergantung pada kesepakatan, komunikasi, kejujuran, batasan yang jelas, serta pengelolaan kecemburuan.
Dengan demikian, hubungan terbuka tidak dapat dijelaskan hanya sebagai dorongan biologis untuk mencari variasi pasangan. Keputusan tersebut juga melibatkan nilai pribadi, kebutuhan emosional, dan dinamika hubungan.
2. Dopamin, Oksitosin, dan Mekanisme Ketertarikan
Sistem saraf memiliki peran penting dalam ketertarikan, motivasi, dan pembentukan ikatan sosial. Dua unsur yang sering dibahas dalam konteks ini adalah dopamin dan oksitosin.
Dopamin merupakan neurotransmiter yang terlibat dalam motivasi, pembelajaran, dan pemrosesan penghargaan. Pengalaman baru dapat meningkatkan perhatian dan ketertarikan pada situasi tertentu, tetapi respons tersebut tidak berarti seseorang secara biologis harus mencari pasangan seksual baru.
Oksitosin juga berperan dalam sejumlah proses sosial dan reproduksi. Penelitian pada manusia dan hewan menunjukkan keterlibatannya dalam konteks seperti ikatan sosial, pengasuhan, dan interaksi interpersonal. Namun, pengaruhnya bergantung pada konteks dan tidak sesederhana anggapan bahwa oksitosin selalu menghasilkan kesetiaan atau rasa cinta.
Sementara itu, vasopresin turut diteliti dalam pembentukan ikatan pasangan, terutama melalui penelitian pada spesies hewan tertentu. Temuan dari hewan tidak dapat langsung diterapkan untuk menjelaskan kompleksitas hubungan manusia.
Fenomena Coolidge Effect juga kerap digunakan untuk membahas respons seksual terhadap pasangan baru. Istilah ini merujuk pada temuan tentang munculnya kembali respons seksual terhadap individu baru setelah respons terhadap pasangan yang sama menurun, terutama dalam penelitian pada hewan. Relevansinya terhadap variasi perilaku seksual manusia masih perlu ditafsirkan secara hati-hati.
Karena itu, hubungan terbuka tidak tepat dijelaskan sebagai pemisahan sederhana antara oksitosin untuk pasangan utama dan dopamin untuk pasangan baru. Sistem biologis yang terlibat dalam ketertarikan dan hubungan sosial bekerja melalui interaksi berbagai mekanisme.
3. Cuckold Fetish dan Teori Persaingan Sperma
Dalam konteks evolusi, sperm competition atau persaingan sperma merupakan kondisi ketika sperma dari lebih dari satu pejantan berpotensi bersaing untuk membuahi sel telur. Fenomena ini dipelajari pada berbagai spesies, termasuk primata, dan menjadi salah satu topik dalam kajian reproduksi manusia.
Robin Baker dan Mark Bellis membahas aspek persaingan sperma pada manusia dalam buku Human Sperm Competition yang diterbitkan pada 1995. Penelitian di bidang ini antara lain menelaah perilaku seksual dan kemungkinan adaptasi reproduksi yang berkaitan dengan persaingan antarlaki-laki.
Namun, teori persaingan sperma tidak dengan sendirinya menjelaskan mengapa sebagian orang memiliki fetish cuckold. Teori tersebut berfokus pada kemungkinan mekanisme reproduksi, sedangkan preferensi seksual manusia dapat terbentuk melalui kombinasi faktor psikologis, pengalaman, pembelajaran, dan konteks sosial.
Belum terdapat dasar ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa fetish cuckold merupakan hasil langsung dari program evolusi yang mengubah kecemasan persaingan reproduksi menjadi gairah seksual. Klaim bahwa situasi tersebut selalu memicu lonjakan testosteron dan kortisol yang kemudian menghasilkan gairah ekstrem juga tidak dapat digeneralisasi tanpa bukti empiris yang memadai.
Pada sebagian individu, fantasi tersebut mungkin berkaitan dengan dinamika kepercayaan, kecemburuan, penyerahan kendali, atau rangsangan psikologis tertentu. Namun, motif dan pengalaman setiap orang dapat berbeda. Penjelasan yang berlaku untuk satu individu belum tentu berlaku bagi individu lainnya.
4. Apakah Preferensi Seksual Selalu Memiliki Fungsi Evolusioner?
Salah satu tantangan dalam psikologi evolusi adalah membedakan antara mekanisme yang mungkin memiliki fungsi adaptif pada masa lalu dan perilaku yang muncul dari proses psikologis atau sosial lainnya.
Tidak semua perilaku manusia harus memiliki fungsi reproduksi langsung. Preferensi seksual juga tidak selalu berkaitan dengan keinginan memiliki keturunan atau meningkatkan keberhasilan reproduksi.
Karena itu, menghubungkan setiap bentuk hubungan nonmonogami atau fetish tertentu dengan adaptasi evolusioner membutuhkan bukti khusus. Penjelasan yang hanya didasarkan pada kemiripan dengan perilaku hewan atau dugaan mengenai hormon belum cukup untuk membuktikan penyebab suatu preferensi seksual.
Pendekatan ilmiah yang lebih hati-hati mempertimbangkan berbagai kemungkinan penjelasan dan mengakui keterbatasan penelitian yang tersedia.
5. Persetujuan, Komunikasi, dan Kesehatan dalam Hubungan
Terlepas dari teori biologis yang digunakan, hubungan intim yang melibatkan lebih dari dua orang membutuhkan persetujuan yang jelas dan berkelanjutan. Setiap pihak perlu memahami batasan, ekspektasi, serta konsekuensi emosional dan kesehatan dari kesepakatan tersebut.
Komunikasi terbuka dapat membantu pasangan mengelola kecemburuan, membahas perubahan perasaan, dan menentukan kembali batasan jika diperlukan. Persetujuan juga dapat ditarik kapan saja; kesepakatan sebelumnya tidak menghilangkan hak seseorang untuk berubah pikiran.
Aspek kesehatan seksual tetap penting, termasuk penggunaan perlindungan yang sesuai, pemeriksaan infeksi menular seksual berdasarkan risiko, dan keterbukaan mengenai informasi kesehatan yang relevan.
Hubungan nonmonogami yang disepakati tidak otomatis berarti lebih sehat atau lebih bermasalah daripada hubungan monogami. Kualitas hubungan perlu dinilai berdasarkan faktor seperti rasa aman, penghormatan terhadap batasan, komunikasi, dan kesejahteraan semua pihak.
Kesimpulan
Open relationship dan fetish cuckold memperlihatkan keragaman perilaku serta preferensi seksual manusia. Biologi evolusioner dapat memberikan kerangka untuk mempelajari strategi hubungan dan reproduksi, sedangkan neurobiologi membantu menjelaskan sebagian mekanisme ketertarikan, motivasi, dan ikatan sosial.
Namun, kedua bidang tersebut belum menyediakan penjelasan tunggal yang dapat memastikan penyebab setiap preferensi seksual. Hubungan manusia terbentuk melalui interaksi faktor biologis, psikologis, sosial, dan pengalaman individu.
Memahami fenomena ini secara ilmiah berarti memisahkan temuan penelitian dari spekulasi, menghindari generalisasi, serta menempatkan persetujuan dan kesejahteraan individu sebagai bagian penting dalam pembahasan.



