GAZA – Satu tahun telah berlalu sejak kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Namun, penghentian pertempuran belum sepenuhnya menghadirkan keamanan bagi masyarakat Palestina karena serangan militer Israel masih dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Gaza.

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 1. 470 warga Palestina meninggal dunia selama setahun terakhir dalam serangan yang disebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Selain korban meninggal, sekitar 5. 180 orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Kesepakatan gencatan senjata tersebut sebelumnya dimediasi oleh Mesir, Qatar, Turki, dan Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya menghentikan perang yang berlangsung sejak Oktober 2023. Dalam pelaksanaannya, Hamas membebaskan 20 tawanan Israel yang tersisa pada 13 Oktober 2025. Pada saat yang sama, sebanyak 1. 968 tahanan Palestina juga dibebaskan.

Proses pengembalian jenazah kemudian dinyatakan berakhir pada 26 Januari 2026. Meski sejumlah tahapan dalam kesepakatan telah dijalankan, kondisi keamanan dan kemanusiaan di Gaza belum sepenuhnya pulih.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan fase transisi menuju pemulihan yang sebelumnya diharapkan belum dirasakan masyarakat Gaza. Persoalan keamanan, pemerintahan, bantuan kemanusiaan, dan rekonstruksi masih menjadi tantangan utama.

Sebelum gencatan senjata berlaku, militer Israel dilaporkan menguasai sekitar 75 persen wilayah Gaza dan direncanakan melakukan penarikan pasukan menuju garis yang telah disepakati. Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan pasukan Israel kembali bergerak ke arah barat sehingga hampir dua pertiga wilayah Gaza berada dalam kendali ketat.

Pada saat bersamaan, pemerintahan transisi teknokratis yang dipimpin Ali Shaath dilaporkan belum sepenuhnya mengambil alih tata kelola sipil di Gaza. Kondisi tersebut menambah kompleksitas proses pemulihan wilayah setelah perang berkepanjangan.

Persoalan lain muncul dalam proses rekonstruksi. PBB, Uni Eropa, dan Bank Dunia memperkirakan pemulihan Gaza membutuhkan sekitar US$71, 4 miliar untuk periode sepuluh tahun. Masuknya bantuan, tenda pengungsian, serta material bangunan juga masih terkendala pembatasan di pintu-pintu perbatasan.

Sementara itu, data otoritas Palestina menyebut perang sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 74 ribu warga Palestina. Kerusakan besar terhadap infrastruktur membuat proses pemulihan Gaza diperkirakan membutuhkan waktu panjang meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berjalan selama satu tahun.