JAKARTA
– Upaya mengakhiri konflik AS–Iran yang meletus sejak 28 Februari 2026 kembali menemui jalan buntu pada akhir September. Presiden Donald Trump menolak tawaran Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Tawaran Iran dan penolakan Trump. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menawarkan pembukaan Selat Hormuz dalam tujuh hari dengan syarat pencabutan sanksi. Iran menyampaikannya lewat mediator Qatar saat Sidang Umum PBB di New York. Teheran meminta AS membebaskan dana Iran yang dibekukan, mencabut sanksi, dan mengakhiri blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran, sebagaimana dilaporkan Media Indonesia. Trump mengonfirmasi bahwa ia menolak proposal itu. Ia menilai Iran buru-buru berdamai karena berada dalam posisi terdesak (detikFinance). The Wall Street Journal melaporkan Trump memberi sinyal kepada stafnya bahwa pengeboman lanjutan sangat mungkin kembali dilakukan.
Saluran diplomasi masih terbuka. Araghchi bertemu mediator Qatar di New York dan mengatakan gagasan yang dibahas akan dibawa ke pihak AS. Iran juga dilaporkan telah menerima tanggapan AS lewat Qatar atas rencana tujuh hari yang bertujuan mengembalikan kedua pihak ke nota kesepahaman Juni, termasuk langkah konkret soal program nuklir dan ketentuan Selat Hormuz (RRI). Nota kesepahaman itu ditandatangani Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 17 Juni 2026 (Kompas. id).
Isu nuklir tetap menjadi ganjalan. Seorang pejabat AS menegaskan kesepakatan mengakhiri perang tidak akan tercapai selama persoalan nuklir Iran belum dituntaskan, dan menyebut Trump bersedia mencabut sanksi serta membebaskan dana beku sebagai imbalan kemajuan nuklir. Namun, Trump membantah laporan Axios bahwa ia siap melonggarkan sanksi dan membuka aset beku Iran sebagai imbalan kemajuan nuklir (Metro TV). Selain itu, inspektur IAEA belum bisa mengunjungi Iran sejak November 2025.
Pasar minyak. Pada Senin (28/9), minyak Brent naik menjadi sekitar US$106, 14 per barel dan WTI US$93, 55 per barel (detikFinance). Laporan lain mencatat lonjakan awal yang lebih tajam, yakni Brent naik 4, 16% menjadi US$108, 66 (Invezz). Perbedaan angka ini terjadi karena waktu pencatatan harga berbeda. Harga lalu mereda. Pada Rabu (30/9), Brent turun ke sekitar US$102, 6 dan WTI US$89, 38, level terendah hampir sepekan, seiring meredanya kekhawatiran pasokan (Metro TV, mengutip Xinhua).
Cengkeraman Iran melemah. Pemicunya adalah pemulihan ekspor kawasan. The Wall Street Journal (29/9) melaporkan negara-negara Arab dan AS berhasil mengakali blokade Iran. Menurut Kpler, pengiriman minyak lewat Hormuz dan rute alternatif mendekati 80 persen dari level sebelum perang. Sebelum perang, ekspor melalui Hormuz sekitar 19 juta barel per hari. Sebagian tanker Arab melintas dengan kawalan militer AS (Suara. com).
Apa selanjutnya. Pasar mencermati laporan Reuters soal upaya Qatar menggelar pembicaraan terpisah dengan kedua pihak, yang berfokus pada proposal yang sudah ditolak. Hingga naskah ini ditulis, belum ada jadwal pertemuan langsung yang dikonfirmasi.
SUMBER RUJUKAN
• Media Indonesia – Proposal Iran soal Selat Hormuz Dibahas dengan Qatar
• RRI – Iran Terima Tanggapan AS soal Rencana Pemulihan Selat Hormuz
• detikFinance – Trump Tolak Tawaran Damai Iran, Harga Minyak Langsung Terbang
• Invezz – Oil jumps over 4% as Trump rejects Iran's Hormuz proposal
• Metro TV – Harga Minyak Dunia Nyaris ke Level Terendah Sepekan
• Suara. com – Cengkeraman Iran di Selat Hormuz Runtuh, Minyak Kembali Mengalir
• Kompas. id – AS Cabut Sanksi Minyak, Iran Setuju Pengawasan Nuklir



