Bogor -
kabut asap kembali menyelimuti sebagian wilayah Indonesia. Data Kementerian Kesehatan per 27 Agustus 2026 mencatat karhutla berdampak pada tujuh provinsi: Kalimantan Barat, Tengah, Selatan, dan Timur, plus Jambi, Riau, dan Sumatra Selatan. Penduduk terdampak mencapai 10. 674. 201 orang. Pada hari itu tercatat 4. 082 kasus ISPA, dengan total kumulatif 13. 449 kasus di 63 kabupaten/kota. Sebanyak 848 tenaga kesehatan dikerahkan, dan indeks ISPU Pontianak menyentuh 328, masuk kategori berbahaya.
Per 15 Oktober 2026, Reuters melaporkan data Kemenkes sebanyak 283. 270 kasus penyakit pernapasan yang dikaitkan dengan kebakaran di tujuh provinsi per 13 Oktober. Angka itu lebih dari dua kali lipat dibanding 113. 336 kasus per 9 September. Angka ini jangan langsung dibandingkan dengan data Agustus tadi, karena definisi kasus dan cakupan pelaporannya bisa berbeda.
Fakta uniknya: sekitar 90 persen massa partikel dari kebakaran hutan, menurut WHO, adalah PM2. 5, partikel sangat halus yang bisa masuk jauh ke paru-paru. Perhatikan, ini 90 persen dari massa partikelnya, bukan 90 persen dari seluruh asap. Asap juga membawa campuran gas seperti karbon monoksida, serta senyawa organik dan logam tertentu.
Kebakaran gambut punya trik tersendiri. Api bisa membara (
smouldering
) di bawah permukaan tanah, jadi sumber asap bisa bertahan walau api di atas sudah tidak kelihatan. Angin pun bisa membawa asapnya jauh ke permukiman yang tidak dekat lokasi api.
Soal “mana lebih bahaya”, jawabannya tidak sesederhana itu. Studi di California Selatan menemukan kenaikan PM2. 5 dari asap kebakaran berkaitan dengan lonjakan rawat inap penyakit pernapasan sekitar 1, 3–10 persen, sedangkan PM2. 5 dari sumber lain 0, 67–1, 3 persen (per kenaikan 10 µg/m³). Tapi itu studi di Amerika Serikat dengan rentang estimasi yang lebar. Tinjauan terbaru 2026 juga menyebut hasilnya belum konsisten untuk semua kondisi. Jadi klaim “asap karhutla pasti 10 kali lebih berbahaya” terlalu mutlak. Polusi kendaraan dan industri pun tetap berbahaya.
Di Indonesia, angka dampaknya besar, tapi ini hasil pemodelan, bukan hitungan sertifikat kematian. Studi tahun 2022 memperkirakan kebakaran gambut di Sumatra dan Kalimantan menyebabkan sekitar 33. 100 kematian dini orang dewasa per tahun, dengan rentang 19. 900–64. 800. Di Palangka Raya, sensor kualitas udara mencatat PM2. 5 harian rata-rata kota di atas 100 µg/m³ pada hari-hari tertentu di September 2019. Studi 2015 memperkirakan sekitar 69 juta orang di Indonesia, Malaysia, dan Singapura terpapar udara tidak sehat dalam waktu lama. Kemenkes sendiri pernah menegaskan bahwa estimasi kematian semacam ini adalah hasil pemodelan dan perlu penelitian lanjutan.
Kelompok yang paling perlu dijaga: bayi dan anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, penyakit paru kronis dan jantung, serta pekerja luar ruangan dan petugas pemadam.



