GentaNusa
GentaNusa
Kesehatan

Rabies, Antraks, Leptospirosis: WHO Nilai Risiko Zoonosis di Tiga Daerah

Hypatia DorothyRedaktur GentaNusa••2 menit membaca
Petugas Balai Veteriner mengambil sampel usap dari unggas milik pedagang saat surveilans flu burung di pasar unggas tradisional.
Petugas Balai Veteriner mengambil sampel usap dari unggas milik pedagang saat surveilans flu burung di pasar unggas tradisional. Foto: Dok. Balai Besar Veteriner Maros / Kementan

WHO Indonesia memaparkan penilaian risiko bersama lintas sektor di Maros, Bantul, dan Jepara pada Juli 2026. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan rabies masih menelan korban jiwa, dan kasus leptospirosis yang dilaporkan naik pada 2023.

Bogor -

WHO Indonesia menerbitkan laporan upaya bersama pemerintah dan berbagai sektor untuk menekan risiko penyakit zoonosis pada 12 Oktober 2026. Laporan itu memuat tiga penilaian risiko bersama (

Joint Risk Assessment

Warga berjalan menembus banjir yang merendam permukiman di Desa Sowan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah
Warga berjalan menembus banjir yang merendam permukiman di Desa Sowan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah Foto: Metrotvnews.com / Rhobi ShaniDokumentasi Tambahan

) yang dilaksanakan pada Juli 2026, yakni rabies di Kabupaten Maros (Sulawesi Selatan), antraks di Kabupaten Bantul (DI Yogyakarta), dan leptospirosis di Kabupaten Jepara (Jawa Tengah).

Penilaian tersebut melibatkan sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, satwa liar, dan lingkungan. Pelaksanaan penilaian risiko tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya wabah di ketiga kabupaten itu.

Zoonosis adalah penyakit infeksi yang dapat menular secara alami antara hewan dan manusia, melalui kontak langsung, gigitan, makanan, air, atau lingkungan yang tercemar.

Data Kementerian Kesehatan yang dipublikasikan pada 20 Maret 2025 mencatat 185. 359 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) sepanjang Januari–Desember 2024, dengan 122 kematian akibat rabies pada manusia. Pada 1 Januari–7 Maret 2025, tercatat 13. 453 kasus GHPR dan 25 kematian. Angka GHPR menunjukkan gigitan hewan yang berpotensi menularkan rabies, bukan kasus rabies terkonfirmasi. Angka 2025 baru mencakup periode hingga 7 Maret, sehingga tidak dapat dibandingkan langsung dengan angka setahun penuh 2024.

Untuk leptospirosis, Profil Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 2. 554 kasus pada 2023, naik sekitar 57, 3 persen dari 1. 624 kasus pada 2022. Angka kematian (case fatality rate) yang dilaporkan turun dari 9, 1 persen menjadi 8 persen. Kenaikan jumlah kasus yang dilaporkan belum tentu mencerminkan kenaikan risiko penularan dengan besaran yang sama, karena perubahan pelaporan dan deteksi kasus juga perlu diperiksa.

Pada sektor flu burung, WHO Indonesia melaporkan pada 6 April 2026 bahwa pada 2025 pihaknya mendukung uji coba surveilans terpadu berbasis pendekatan One Health di lima provinsi prioritas. Pasar unggas tradisional menjadi salah satu lokasi penting dalam sistem peringatan dini. Uji coba surveilans ini tidak menunjukkan adanya peningkatan kasus pada manusia.


dengan angka kasus dan probabilitas kematian yang cukup tinggi, ancaman zoonosis yang terjadi di negara kita tidak dapat kita abaikan. maka dari itu mari jaga diri, hewan, dan lingkungan kita. Vaksinasi hewan peliharaan, segera cuci luka gigitan dan periksakan ke fasilitas kesehatan, hindari kontak dengan hewan sakit atau mati, jaga kebersihan lingkungan dan hindari air tergenang saat banjir. Laporkan kematian ternak yang janggal. Pencegahan dimulai dari kita, kalau bukan kita siapa lagi (> uo).

#zoonosis#WHO Indonesia#rabies#antraks#leptospirosis#flu burung#One Health#Kementerian Kesehatan#Maros#Bantul#Jepara