BADUNG, BALI — Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Bali mendorong pengembangan pariwisata berkualitas dengan mengutamakan pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan pertumbuhan industri pariwisata memberikan manfaat jangka panjang bagi Pulau Dewata.

Ketua DPD Asita Bali, I Putu Winastra, menyampaikan hal itu dalam Musyawarah Daerah (Musda) XV Asita Bali di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, Jumat. Ia menegaskan, peran biro perjalanan dalam mendatangkan wisatawan perlu diimbangi dengan tanggung jawab menjaga kelestarian dan kualitas destinasi.

Menurut Winastra, keberhasilan pariwisata tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah wisatawan yang berkunjung. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah dampak ekonomi bagi masyarakat, keberlangsungan tradisi budaya, serta kelestarian lingkungan.

Ia menilai, biro perjalanan memiliki posisi strategis dalam membentuk pola perjalanan wisatawan. Melalui pemilihan destinasi, aktivitas wisata, dan produk yang ditawarkan, pelaku industri dapat mendorong praktik perjalanan yang lebih bertanggung jawab.

Asita Bali juga ingin mendorong wisatawan agar tidak hanya berkunjung ke destinasi populer, tetapi turut mengenal desa wisata, membeli produk lokal, menghormati tradisi masyarakat, dan menjaga lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, manfaat ekonomi pariwisata diharapkan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat setempat.

Winastra menambahkan, kontribusi industri pariwisata perlu dilihat dari manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat dan warisan positif yang ditinggalkan bagi generasi mendatang. Karena itu, transformasi menuju pariwisata berkualitas membutuhkan keterlibatan pelaku usaha, pengelola destinasi, pemerintah, dan masyarakat.

Dalam pemaparannya, Winastra menyebut jaringan dan aktivitas anggota Asita Bali turut mendorong sekitar 63 persen kunjungan wisatawan secara luring ke Bali. Namun, ia tidak merinci periode penghitungan, jumlah total kunjungan sebagai dasar perhitungan, maupun metodologi yang digunakan untuk memperoleh angka tersebut.

Untuk memperkuat promosi dan jejaring industri, Asita Bali menjalankan sejumlah program, termasuk Bali and Beyond Travel Fair (BBTF). Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku industri pariwisata dengan pembeli dari 44 negara dan menghadirkan lebih dari 1. 000 peserta.

Selain itu, Asita Bali menyelenggarakan kegiatan Bali Tourism Run dan SAKIRA serta menjalin kerja sama dengan sejumlah daya tarik wisata, di antaranya Monkey Forest Ubud, Jatiluwih, dan Pura Besakih.

Berbagai program tersebut diarahkan untuk memperkuat hubungan antara biro perjalanan, pengelola destinasi, dan masyarakat. Asita Bali juga berupaya memperluas perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam merumuskan solusi atas berbagai tantangan di sektor pariwisata.

Melalui Musda XV, Winastra berharap organisasinya dapat memperkuat kelembagaan dan beradaptasi dengan perubahan industri, sekaligus mendorong pengembangan pariwisata Bali yang lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.