Dokumen perencanaan internal Anthropic yang disusun pada awal 2024 membeberkan ambisi besar perusahaan: membangun perpustakaan pusat berisi seluruh buku di dunia, menyimpannya tanpa batas waktu, lalu memilah isinya sewaktu-waktu untuk melatih model kecerdasan buatan. Proyek bersandi "Project Panama" itu dikomandoi Tom Turvey, eks kepala kemitraan Google Books yang direkrut pada Februari 2024. Dokumen tersebut turut memuat permintaan agar para karyawan tidak membahasnya, termasuk di lingkungan internal perusahaan.

Buku-buku didapat dan dikumpulkan dari penjual bekas, kerap puluhan ribu eksemplar dalam sekali transaksi, termasuk dari Better World Books dan World of Books, dengan proses punggung buku dipangkas dengan mesin hidraulik, lembarannya dilepas dan dilahap pemindai berkecepatan tinggi, sementara sisa fisiknya dijadwalkan diangkut perusahaan daur ulang untuk dijadikan bubur kertas. Salah satu proposal kontraktor bahkan mengusulkan target 500 ribu hingga dua juta buku dalam enam bulan. Ars Technica mencatat, teknik serupa lazim dipakai dalam skala kecil, tetapi operasi Anthropic disebut jauh melampaui praktik umum.

Pemicunya disebabkan data wall, yakni kondisi ketika teks berkualitas di internet yang tersedia gratis telah terkuras untuk melatih model bahasa. Buku cetak yang belum pernah didigitalkan pun diburu sebagai sumber data "murni manusia".

Dampaknya lebih dulu terasa di lapangan. Barter Books di Northumberland, Inggris, yang biasanya menjual dua ribu hingga tiga ribu buku per pekan, mendadak menerima pesanan sebanyak itu dalam sehari dari sebuah perusahaan asal Kanada. Di Haarlem, Belanda, pemilik toko buku antik De Vries & De Vries dihubungi pihak yang mengaku mewakili perusahaan Singapura dan meminta tiga ribu judul sekaligus. Perburuan serupa juga terekam pada pemain lain, termasuk Meta, yang keputusan mengunduh koleksi bajakan untuk melatih Llama 3 baru disetujui setelah dieskalasi ke level CEO pada Desember 2023.

Sorotan pengamat tak hanya tertuju pada skala proyek, tetapi juga pada citra Anthropic, yang selama ini lantang menyuarakan etika dan keselamatan AI, sementara proyek ini sengaja ditutup dari publik. Di situlah inti kritiknya, bukan semata soal legalitas.

Dari sisi hukum, kesepakatan damai senilai 1, 5 miliar dolar AS (sekitar Rp 24 triliun) pada September 2025 menyasar pembajakan buku digital lewat LibGen dan PiLiMi, bukan Project Panama. Adapun pembelian dan pemindaian buku fisik dinyatakan hakim federal sebagai fair use. Dengan demikian, meski menuai polemik etika, praktik ini diperkirakan tetap berlanjut tanpa konsekuensi hukum serupa