JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 283. 270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Agustus hingga 13 Oktober 2026. Sebanyak 63. 711 kasus di antaranya dialami anak berusia 0–5 tahun.

Kasus tersebut tersebar di tujuh provinsi yang mencakup 63 kabupaten/kota. Sementara itu, 219. 559 kasus lainnya tercatat pada kelompok usia di atas lima tahun. Data ini sebelumnya diberitakan detikHealth pada Jumat (16/10/2026).

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan akumulasi laporan sejak Agustus hingga 13 Oktober 2026. Pada periode harian yang dilaporkan hingga 13 Oktober, tercatat pula 3. 897 kasus ISPA.

Kalimantan Selatan menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 74. 636 kasus. Sumatera Selatan menyusul dengan 74. 458 kasus.

Perbedaan Angka Data

Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, menyampaikan bahwa data hingga 12 Oktober 2026 mencatat 277. 075 kasus kumulatif, termasuk 62. 400 kasus pada anak usia 0–5 tahun. Angka itu kemudian diperbarui menjadi 283. 270 kasus hingga 13 Oktober. Kedua angka tersebut tidak bertentangan, melainkan menggunakan batas waktu pendataan yang berbeda.

Kemenkes Kerahkan Tenaga Kesehatan

Untuk menghadapi dampak tersebut, Kemenkes memobilisasi 2. 106 tenaga kesehatan dan memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Penguatan mencakup layanan di fasilitas kesehatan, sistem rujukan pasien, dan pemantauan penyakit.

Pemerintah juga menyalurkan perlengkapan medis dan logistik. Menurut laporan ANTARA, bantuan itu meliputi sekitar tiga juta masker, konsentrator oksigen, obat-obatan, dan alat pelindung diri (APD).

Kandungan Asap dan Risiko Kesehatan

Menurut Kemenkes, asap karhutla mengandung partikel halus PM2. 5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun. PM2. 5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga paru-paru.

Paparan asap dapat menimbulkan batuk, pilek, iritasi tenggorokan, mata perih, dan sesak napas. Gejala bisa memburuk pada penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Polusi udara juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.

Selain balita, kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus adalah lansia, ibu hamil, penderita asma dan PPOK, serta pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.

Imbauan bagi Masyarakat

Warga di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan saat polusi tinggi dan menghindari olahraga berat di luar rumah ketika udara berasap. Pintu dan jendela dapat ditutup sementara untuk mengurangi masuknya asap, dengan tetap memperhatikan ventilasi ruangan. Bagi yang harus keluar rumah, respirator seperti N95 atau KN95 dapat membantu bila digunakan dengan benar.

Pemeriksaan ke fasilitas kesehatan diperlukan apabila keluhan menetap, memburuk, atau mengganggu aktivitas. Sesak napas yang memburuk memerlukan pertolongan medis segera.

Kualitas Udara Memburuk

Berdasarkan laporan ANTARA pada 15 Oktober 2026, pemantauan 37 stasiun kualitas udara menunjukkan 13 wilayah berkategori berbahaya, 11 wilayah sangat tidak sehat, dan 13 wilayah tidak sehat. Tingkat pencemaran dapat berbeda antarlokasi dan berubah mengikuti arah angin, cuaca, serta perkembangan kebakaran. Karena itu, masyarakat diimbau memeriksa informasi kualitas udara di wilayah masing-masing.

Dampak hingga Negara Tetangga

Reuters pada 15 Oktober 2026 melaporkan, kebakaran yang berlangsung berbulan-bulan di Indonesia memicu peningkatan gangguan pernapasan dan menyebarkan kabut asap ke Singapura dan Malaysia. Kebakaran terjadi antara lain di kawasan hutan dan lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan. Api di lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga pemadaman lebih sulit dan memakan waktu.

Cuaca kering dan panas yang dikaitkan dengan fenomena El Niño disebut memperburuk situasi. Selain itu, pembukaan lahan dengan cara membakar juga menjadi persoalan dalam pencegahan karhutla. Kabut asap turut dikaitkan dengan penutupan sejumlah sekolah dan gangguan penerbangan.

Mengutip data kelompok lingkungan Auriga, lebih dari 637. 000 hektare lahan diperkirakan terdampak kebakaran pada Januari–Agustus 2026. Pemantau deforestasi Nusantara Atlas memperkirakan luasnya mendekati 900. 000 hektare. Kedua angka itu merupakan estimasi dari sumber berbeda, bukan data resmi pemerintah yang diperbarui untuk periode yang sama.

Penanganan dampak karhutla dinilai tidak cukup melalui pengobatan semata. Pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan informasi kualitas udara tersedia berkala, sementara pencegahan kebakaran, perlindungan ekosistem gambut, pengawasan pembukaan lahan, dan penegakan hukum tetap menjadi bagian upaya jangka panjang.