Alkohol kerap hadir dalam berbagai aktivitas sosial di sejumlah negara dan komunitas. Namun, di balik penggunaannya dalam pergaulan, alkohol dapat memengaruhi fungsi otak, hati, sistem kardiovaskular, serta kemampuan seseorang mengambil keputusan.

Konsep responsible drinking atau konsumsi alkohol secara bertanggung jawab sering digunakan untuk menjelaskan upaya mengurangi risiko bagi orang dewasa yang memilih minum alkohol. Meski demikian, pola konsumsi yang dianggap moderat bukan berarti sepenuhnya bebas risiko.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa konsumsi alkohol berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan. Risiko dapat dipengaruhi oleh jumlah alkohol yang dikonsumsi, frekuensi minum, kondisi kesehatan individu, serta situasi ketika alkohol digunakan.

Mengenali Takaran Alkohol dan Batas Konsumsi

Istilah standard drink atau takaran standar digunakan untuk memperkirakan jumlah alkohol murni dalam suatu minuman. Namun, ukuran satu takaran standar dapat berbeda antarnegara, sehingga volume minuman saja tidak selalu cukup untuk menentukan jumlah alkohol yang dikonsumsi.

Sebagai gambaran, bir dengan kadar alkohol 5 persen sebanyak 330 mililiter mengandung sekitar 13 gram alkohol murni. Sementara itu, anggur dengan kadar alkohol 12 persen sebanyak 150 mililiter mengandung sekitar 14 gram alkohol, dan minuman beralkohol berkadar 40 persen sebanyak 45 mililiter mengandung sekitar 14 gram alkohol.

Perhitungan tersebut merupakan perkiraan. Kandungan alkohol sebenarnya bergantung pada volume dan kadar alkohol yang tertera pada kemasan.

Penting dipahami bahwa tidak ada jumlah konsumsi alkohol yang dapat menjamin seseorang terhindar dari seluruh risiko kesehatan. Mengurangi jumlah dan frekuensi konsumsi dapat menurunkan sejumlah risiko, sedangkan tidak mengonsumsi alkohol merupakan pilihan dengan risiko kesehatan terkait alkohol paling rendah.

Cara Mengurangi Risiko jika Memilih Mengonsumsi Alkohol

Bagi orang dewasa yang memilih mengonsumsi alkohol, terdapat sejumlah langkah untuk mengurangi risiko langsung, meskipun langkah-langkah tersebut tidak menghilangkan bahaya alkohol sepenuhnya.

Pertama jangan mengonsumsi alkohol secara berlebihan dalam waktu singkat.

Minum dalam jumlah besar sekaligus dapat meningkatkan kadar alkohol dalam darah dan menyebabkan gangguan koordinasi, penurunan kesadaran, hingga keracunan alkohol yang mengancam jiwa.

Kedua, makan sebelum atau selama konsumsi.

Makanan dapat memperlambat penyerapan alkohol, tetapi tidak mencegah mabuk atau membuat seseorang kembali layak mengemudi.

Ketiga, selingi dengan air putih.

Air membantu menjaga asupan cairan, tetapi tidak mempercepat penguraian alkohol oleh hati dan tidak membuat seseorang lebih cepat sadar.

Keempat, hindari mencampur alkohol dengan obat-obatan tanpa memastikan keamanannya kepada tenaga kesehatan. Interaksi alkohol dengan obat tidur, obat penenang, opioid, dan sejumlah obat lainnya dapat meningkatkan risiko efek samping serius. Interaksi dengan parasetamol juga perlu diperhatikan karena faktor dosis, pola konsumsi alkohol, dan kondisi hati dapat memengaruhi risikonya.

Minuman berenergi yang mengandung kafein juga bukan cara untuk menetralkan alkohol. Kafein dapat membuat seseorang merasa lebih terjaga, tetapi tidak memulihkan kemampuan koordinasi, penilaian, maupun waktu reaksi yang terganggu akibat alkohol.

Siapa yang Sebaiknya Menghindari Alkohol?

Sejumlah kelompok perlu menghindari alkohol karena risiko kesehatannya lebih tinggi atau karena alkohol dapat mengganggu keselamatan.

Kelompok tersebut meliputi ibu hamil atau yang sedang merencanakan kehamilan, orang yang akan mengemudi atau mengoperasikan mesin, individu yang menggunakan obat-obatan dengan interaksi berbahaya terhadap alkohol, serta orang dengan kondisi medis tertentu yang membuat konsumsi alkohol berisiko.

Orang yang memiliki riwayat gangguan penggunaan alkohol juga sebaiknya mendapatkan dukungan profesional untuk menjaga pemulihan dan mencegah kekambuhan.

Selama kehamilan, tidak ada jumlah atau waktu konsumsi alkohol yang diketahui aman. Paparan alkohol dapat mengganggu perkembangan janin dan menyebabkan gangguan spektrum alkohol janin (Fetal Alcohol Spectrum Disorders atau FASD).

Bagi ibu menyusui, keputusan mengenai alkohol sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan karena alkohol dapat masuk ke dalam ASI dan memengaruhi bayi.

Dampak Alkohol bagi Kesehatan dalam Jangka Panjang

Konsumsi alkohol, terutama dalam jumlah besar atau secara berulang, dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.

Pada hati, alkohol dapat berkontribusi terhadap penumpukan lemak, peradangan, dan sirosis. Konsumsi alkohol juga berkaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, tekanan darah tinggi, gangguan irama jantung, stroke, serta masalah kesehatan mental.

Dampaknya terhadap otak dapat mencakup gangguan memori, konsentrasi, koordinasi, dan kemampuan mengambil keputusan. Konsumsi berulang pada sebagian orang juga dapat berkembang menjadi gangguan penggunaan alkohol yang membutuhkan penanganan medis dan psikologis.

Risiko tidak selalu muncul dengan cara yang sama pada setiap orang. Faktor genetik, kondisi kesehatan, pola konsumsi, dan penggunaan obat-obatan dapat memengaruhi dampak yang dialami.

Jangan Mengemudi setelah Mengonsumsi Alkohol

Salah satu risiko paling langsung dari konsumsi alkohol adalah penurunan kemampuan mengemudi. Alkohol dapat memperlambat waktu reaksi, mengganggu penglihatan dan koordinasi, serta mengurangi kemampuan menilai jarak maupun mengambil keputusan.

Seseorang dapat merasa masih mampu mengemudi meskipun fungsi tubuhnya telah terganggu. Karena itu, jangan mengandalkan perasaan sadar, kopi, mandi air dingin, atau minuman berenergi untuk menentukan apakah tubuh sudah aman untuk berkendara.

Jika telah mengonsumsi alkohol, pilih transportasi alternatif atau pengemudi yang tidak minum alkohol.

Kesadaran Diri dan Pengurangan Risiko

Memahami risiko alkohol bukan hanya soal menghitung jumlah minuman, tetapi juga mengenali dampaknya terhadap kesehatan, perilaku, dan keselamatan orang lain.

Tidak mengonsumsi alkohol merupakan pilihan yang sepenuhnya wajar dan tidak membutuhkan pembenaran. Bagi orang yang mengalami kesulitan mengendalikan konsumsi, bantuan tenaga kesehatan dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi risiko dan memperoleh penanganan yang sesuai.

Catatan: Artikel ini bersifat edukasi kesehatan umum dan bukan pengganti konsultasi medis profesional.