Menurut Britannica, kebangkitan komunitas Muslim di Makkah dan Madinah tidak lepas dari konteks regional abad ke-5 dan ke-6. Jazirah Arab saat itu berada di antara dua kekuatan besar, yakni Kekaisaran Bizantium (Kristen) dan Kekaisaran Sasanid (Zoroaster-Mazdean). Keduanya bersaing, bahkan memelihara negara-negara klien di wilayah suku-suku Arab. Persaingan itu memperluas wawasan bangsa Arab tentang budaya dan agama lain dan membuat mereka makin terhubung dengan jaringan komunikasi yang lebih luas.
Tahun 622 M, ketika Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah, menjadi awal kalender Islam. Britannica mencatat tanggal tersebut setara dengan 16 Juli 622 M. Sumber gaulislam menyebut hijrah itu sebagai awal berdirinya pemerintahan Islam di Madinah.
Dari Khulafaur Rasyidin ke Dinasti Umayyah
Setelah Nabi wafat, sekelompok tokoh Madinah menunjuk Abu Bakar, ayah mertua Nabi, sebagai khalifah. Menurut Britannica, mayoritas Muslim berpandangan Nabi tidak meninggalkan petunjuk tentang penggantinya, sementara kelompok minoritas, cikal bakal Syiah, mendukung Ali. Britannica menyebut pada masa awal itu calon khalifah diharapkan sebagai pemeluk Islam yang awal serta memiliki keutamaan moral dan pengetahuan.
Empat khalifah pertama, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, kemudian dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin. Britannica mencatat masa mereka diwarnai gejolak politik, perang saudara, dan pembunuhan, tetapi kemudian dikenang sebagai zaman keemasan. Pada masa ini organisasi administrasi dan peradilan komunitas Muslim dibentuk, dan pada 630-an Suriah, Yordania, Palestina, dan Irak ditaklukkan. Mesir diambil dari Bizantium pada 645.
Pembunuhan Utsman dan masa pemerintahan Ali yang penuh persoalan memicu perpecahan sektarian pertama. Pada 661, Muawiyah I dari klan Umayyah merebut kekhalifahan dan mendirikan Dinasti Umayyah yang berkuasa hingga 750 dengan Damaskus sebagai pusat. Menurut Britannica, Muawiyah mengambil sumpah setia untuk putranya, Yazid I, semasa ia hidup. Langkah itu mengabaikan tradisi pemilihan dan memperkenalkan suksesi turun-temurun.
Pada masa Abdul Malik (685-705), bahasa Arab menjadi bahasa resmi negara, mata uang Arab diperkenalkan, dan layanan pos dari Damaskus ke ibu kota provinsi dibangun. Masa itu juga melahirkan Kubah Batu di Yerusalem, yang rampung pada 691-692. Di bawah putranya, Al-Walid (705-715), pasukan Muslim menguasai Afrika Utara dan sebagian besar Semenanjung Iberia.
Abbasiyah dan Berakhirnya Kekhalifahan Baghdad
Menurut Britannica, ekspansi Umayyah mencapai batasnya ketika kemajuan pasukan Muslim ke Prancis dihentikan di Poitiers pada 732. Pada masa Khalifah Hisham (724-743) pertikaian suku Qays dan Kalb melemahkan negara. Khalifah terakhir, Marwan II, kalah dalam Pertempuran Great Zab pada 750 oleh pendukung keluarga Abbasiyah. Seorang penyintas Umayyah, Abdurrahman, melarikan diri ke Spanyol dan mendirikan dinasti Umayyah di Cordoba pada 756.
Khalifah Abbasiyah pertama, As-Saffah, berkuasa pada 749-754. Al-Manshur memindahkan ibu kota ke Baghdad pada 762-763. Britannica menyebut periode 786-861, terutama masa Harun (786-809) dan Al-Makmun (813-833), sebagai puncak kejayaan Abbasiyah. Setelah itu kekuasaan melemah. Bani Buwaih menguasai Baghdad pada 945 dan menjadikan khalifah sebagai simbol. Dinasti Fatimiyah di Tunisia memproklamasikan kekhalifahan tandingan pada 920, disusul penguasa Umayyah di Spanyol, Abdurrahman III, pada 928. Kekhalifahan Baghdad berakhir saat Mongol menyerbu kota itu pada 1258 dan membunuh Khalifah Al-Mustasim.
Sistem Pemerintahan: Dua Pembacaan
Mengenai struktur pemerintahan, sumber yang dipakai memuat dua pembacaan yang berbeda.
Makalah yang dimuat gaulislam, ditulis Muhammad Shiddiq Al Jawi yang dalam catatannya disebut sebagai anggota Hizbut Tahrir, menggambarkan struktur negara dalam Islam terdiri dari delapan bagian: Khalifah sebagai kepala negara, Muawin Tafwidh, Muawin Tanfidz, para wali (gubernur), qadli (hakim), Amirul Jihad dan angkatan bersenjata, aparat administrasi, serta Majelis Umat. Menurut makalah itu, khalifah diangkat melalui baiat, dan suksesi turun-temurun tidak pernah dianggap sah, meski penyimpangan pernah terjadi. Penulisnya mencatat penyimpangan itu, antara lain pengambilan baiat untuk keluarga khalifah semasa hidupnya, partai yang meraih kuasa dengan kekuatan militer, serta wewenang wali yang terlalu luas.
Britannica memberi gambaran yang lebih kritis. Disebutkan bahwa mayoritas Muslim memandang penguasa Umayyah sebagai "kerajaan" (mulk) dan bukan kekhalifahan yang dibangun di atas kualitas pribadi dan musyawarah. Pengaturan suksesi turun-temurun oleh Muawiyah dinilai sebagai konsep yang asing bagi tradisi pemilihan sebelumnya.
Perdebatan juga menyangkut kewajiban mendirikan kekhalifahan. Makalah gaulislam mengutip para ulama mazhab yang menurut penulisnya sepakat atas kewajiban itu, sembari menyebut tokoh yang menolaknya, antara lain Nurcholish Madjid dan Ali Abdur Raziq.
Abad Modern: Penghapusan dan Klaim Baru
Britannica mencatat bahwa pada abad ke-18 sultan Utsmaniyah yang melemah menegaskan klaim sebagai khalifah untuk mempertahankan pengaruh atas umat Muslim. Kekhalifahan dihapus pada 1924 setelah Kesultanan Utsmaniyah bubar dan Republik Turki berdiri. Sumber gaulislam menyebut penghapusan itu diumumkan Mustafa Kemal Ataturk pada 3 Maret 1924.
Britannica menyebut gagasan penegakan kembali kekhalifahan tidak menjadi kepentingan praktis kelompok Islamis arus utama seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir. Ia menonjol dalam retorika kelompok ekstremis kekerasan seperti Al-Qaeda. Pada Juni 2014, kelompok ISIL mendeklarasikan kekhalifahan dengan pemimpinnya, Abu Bakar al-Baghdadi, sebagai khalifah. Klaim itu, menurut Britannica, ditolak luas di luar kalangan ekstremis.
Sumber: Britannica (Caliphate; Umayyad dynasty; Islamic world), Media Indonesia, gaulislam.