WASHINGTON
– Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan Washington tidak akan melancarkan serangan militer baru terhadap Iran sebelum pemilihan umum sela pada 3 November 2026. Pernyataan itu muncul ketika kenaikan harga energi dan menurunnya dukungan publik membebani Partai Republik menjelang pemungutan suara Kongres.
Trump menyampaikan hal itu lewat platform Truth Social pada Kamis (8/10/2026). Ia menyebut pembicaraan Washington dan Teheran berlangsung produktif, sebagaimana dikutip Reuters. Namun, blokade AS terhadap pelabuhan Iran tetap berlaku. Menurut pemberitaan Republika, konflik kedua negara berlangsung sejak Februari 2026.
Janji penundaan itu tidak berarti tekanan terhadap Teheran berhenti. Sehari sebelumnya, Axios melaporkan Pentagon memerintahkan Komando Pusat AS (CENTCOM) menyelesaikan persiapan kemungkinan dimulainya kembali operasi tempur besar. Mengutip sejumlah pejabat AS, laporan itu menyebut opsi sasaran mencakup fasilitas energi, infrastruktur strategis, dan target nuklir Iran.
Perintah tersebut tidak memuat tanggal pelaksanaan, dan Trump belum mengambil keputusan akhir. Seorang pejabat Pentagon menyatakan tugas Departemen Pertahanan adalah menyiapkan berbagai pilihan militer bagi presiden.
Dari sisi publik, survei Reuters/Ipsos menunjukkan sekitar 60 persen warga AS tidak menyetujui cara Trump menangani konflik Iran. Sekitar seperempat responden yang mengaku pendukung Partai Republik juga menyatakan ketidakpuasan. Hasil itu belum tentu berarti pemilih Republik beralih ke kandidat Demokrat.
Survei Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research yang dirilis 1 Oktober 2026 mencatat hanya 17 persen orang dewasa AS menyetujui penanganan biaya hidup oleh Trump. Persetujuan terhadap pengelolaan ekonomi secara keseluruhan berada di angka 26 persen. Survei terhadap 2. 140 responden pada 24–28 September itu juga menemukan 65 persen menilai kebijakan Trump lebih bertanggung jawab atas tingginya harga dibanding faktor di luar kendalinya. Survei tersebut tidak memisahkan dampak perang Iran dari kebijakan tarif dan faktor ekonomi lain.
Keresahan juga datang dari kubu Republik. Menurut rekaman pertemuan dengan donor dan pelobi yang diperoleh Axios dan diberitakan pada Rabu (7/10/2026), Jaksa Agung Texas sekaligus kandidat senator Republik, Ken Paxton, mengakui perang Iran dan kenaikan harga bensin serta solar mempersulit kampanyenya. Ia menyebut biaya bahan bakar merambat ke harga pangan dan kebutuhan lain, sementara seorang kandidat senator tidak punya kendali atas keputusan perang Gedung Putih.



