RIYADH – Ketegangan antara kelompok Houthi dan Arab Saudi terus meningkat. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan dua rudal jelajah yang diluncurkan ke arah Riyadh pada Selasa (13/10/2026).

Menurut Pertahanan Sipil Arab Saudi, sebagaimana dikutip Saudi Gazette, serpihan rudal jatuh di kawasan permukiman. Empat orang terluka, termasuk seorang anak dan dua perempuan, dan 15 rumah rusak. Kerusakan dilaporkan terbatas.

Insiden itu terjadi di tengah rangkaian serangan yang menyasar fasilitas penerbangan. Pada Sabtu (10/10/2026), serangan ke Bandara Internasional King Khalid menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya, menurut laporan Al Jazeera. Sehari berselang, serangan lanjutan di bandara yang sama menewaskan satu orang dan melukai 11 orang. Houthi mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan tersebut.

Otoritas Arab Saudi menangguhkan operasional Bandara King Khalid hingga 17 Oktober. Sejumlah maskapai membatalkan atau mengubah jadwal penerbangan ke Riyadh dan kota lain di kawasan itu. Houthi juga memperingatkan maskapai internasional agar tidak terbang ke bandara-bandara Saudi, dengan pengecualian Makkah dan Madinah. Kelompok ini turut mengancam menyasar fasilitas minyak pada serangan berikutnya.

Arab Saudi membalas. The Guardian melaporkan, pada hari yang sama koalisi melancarkan serangan udara ke fasilitas penyimpanan minyak di wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk di sekitar Sanaa dan Pelabuhan Ras Isa.

Pertempuran di Taiz

Eskalasi tidak hanya terjadi di wilayah Saudi. Pasukan pemerintah Yaman yang diakui internasional menyatakan telah melancarkan sembilan serangan udara ke posisi Houthi di Provinsi Taiz pada Senin (12/10/2026), lima di Distrik Dhubab dan empat di Distrik Al-Masrakh. Pertempuran darat juga berlangsung di Al-Shaqab, Taiz bagian selatan.

Yemeni Network for Rights and Freedom mencatat sedikitnya lima warga sipil tewas dalam 24 jam akibat serangan Houthi di Taiz, termasuk seorang anak perempuan berusia lima tahun. Sebanyak 17 orang lainnya terluka.

Latar belakang: jalur laut dan pengaruh Iran

Serangan Houthi ke Saudi meningkat sepanjang 2026, seiring perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, sekutu Houthi. Teheran dilaporkan mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, sehingga Saudi mengalihkan lebih banyak ekspor minyaknya lewat pelabuhan Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb. Jalur itu dilintasi sekitar 10–12 persen perdagangan maritim dunia.

Pada September 2026, Houthi dilaporkan merebut Pulau Perim dan Kota Mocha, dua lokasi yang berdekatan dengan Bab al-Mandeb. Konflik Houthi–Saudi sendiri berakar dari perang saudara Yaman sejak 2014. Saudi memimpin intervensi militer pada 2015, dan gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022 belum menghasilkan penyelesaian politik permanen.

Sorotan bagi Indonesia

Dampak eskalasi ini turut dirasakan di Indonesia. Sejumlah pemberitaan melaporkan dua warga negara Indonesia (WNI) terluka dalam serangan di Bandara Riyadh, dan perlindungan WNI di kawasan konflik menjadi bahan pembahasan.


#houthi #Arabsaudi #Riyadh #Yaman #Bandarakingkhalid #Laut Merah #Babal-Mandeb #Konflik #TimurTengah #SeranganRudal  #WNIdiTimurTengah