JAKARTA — Urusan santet-menyantet dalam ranah politik kembali menjadi pembicaraan hangat setelah Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Zulkifli Anwar, memberikan pesan sekaligus nasihat kepada pimpinan Ombudsman dalam rapat antara Komisi II DPR RI dan Ombudsman di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (29/9/2026).

Anwar meminta segenap pimpinan Ombudsman untuk waspada agar tidak terkena santet.

“Jadi, secara pribadi, tidak banyak lebar saya sampaikan, jaga diri kalian masing-masing. Jangan kalian kena santet. Itu saja. Saya hanya mengingatkan. Kalau tidak percaya, kita buktikan,” tegasnya.

Menyikapi saran dan nasihat tersebut, termasuk saran dan nasihat dari para anggota komisi lainnya, Anggota Ombudsman Syafrida Rachmawati Rasahan menyatakan terima kasih atas perhatian mitra kerjanya dan memastikan bahwa seluruh pimpinan serta jajaran saat ini berada dalam kondisi aman dan selamat tanpa mengalami teror apa pun.

Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PKB, Muhammad Khozin, mengimbuhkan, demi keselamatan seluruh pimpinan dan anggota Ombudsman ke depan dalam menjalankan tugas, perlu kiranya Ombudsman secara kelembagaan melakukan perjanjian kerja sama dengan TNI/Polri untuk menjamin keamanan dan keselamatan.

Berkelindan-nya santet sebagai urusan klenik dengan dunia politik kontemporer sejatinya bukan barang baru ia merupakan realitas purba sejak zaman nenek moyang.

Berdampingannya praktik klenik dan kekuasaan sering kali berakar pada tradisi leluhur Nusantara pada masa lampau yang terus dilestarikan oleh anak cucu hingga saat ini.

Pada masa lalu, mereka yang memegang tampuk kekuasaan raja-raja Nusantara kerap melakukan tirakat di tempat-tempat wingit, “bersekutu” dengan para danyang gaib penguasa wilayah, serta menguasai ilmu kanuragan, kejadugan, dan kewibawaan untuk merebut dan melanggengkan kekuasaan.

Praktik-praktik berbasis animisme dan dinamisme ini tak luntur hingga kini, bahkan ketika agama-agama arus utama sudah masuk dan melembaga sebagai keyakinan yang dijamin oleh konstitusi.

Persenyawaan antara politik kekuasaan dan klenik terjadi karena masih ada generasi-generasi yang terus melanggengkannya.

Kendati demikian, ada perbedaan yang cukup mencolok antara praktik pada masa lalu dan praktik di era modern saat ini. Praktik di masa silam lebih cenderung menjadi bagian dari keyakinan yang mereka anut, yang dijalankan sebagai laku tradisi secara turun-temurun.

Kondisi hari ini sangat kontras dan banal. Kuatnya relasi politik dan klenik terjadi karena objektif-objektif yang cenderung menyimpang, seperti memenangkan persaingan politik secara tidak wajar, menyingkirkan lawan politik dari “belakang”, menundukkan pimpinan atau atasan, termasuk menyingkirkan “orang-orang bersih dan berintegritas” yang dianggap menjadi batu sandungan.

Inilah yang membuat praktik perdukunan di era kini sangat masif dan menjadi industri tersendiri dengan total nilai finansial yang tidak sedikit.

Ada banyak realitas empirik yang dapat dijadikan rujukan, betapa relasi politik kekuasaan dan klenik adalah suatu hal yang benar-benar nyata.

Di era Presiden Soekarno presiden pertama Indonesia ada sebuah kejadian menarik. Dikisahkan dalam buku Soekarno Peonja Tjerita, terbitan Bentang tahun 2016, penyerangan terhadap Soekarno terjadi pada 14 Mei 1962.

Pada waktu itu, Sanusi mendapat perintah dari Kartosoewiryo, pimpinan Negara Islam Indonesia (NII), untuk mengeksekusi mati Soekarno.

Singkat kata, Sanusi mendapatkan momennya untuk membunuh Soekarno pada saat salat Id di halaman Istana Negara.

Di tempat tersebut, Soekarno mengisi baris pertama bersama para personel militer yang melakukan pengamanan dan pengawalan, sedangkan Sanusi mengisi baris ketujuh.

Dor!

Tembakan dari jarak sekitar tujuh meter dilepaskan oleh Sanusi pada saat Soekarno berada dalam posisi rukuk.

Ajaib, tembakan Sanusi yang notabene adalah penembak jitu di kalangan DI/TII meleset.

Dalam pengakuannya pasca-ditangkap, Sanusi bertutur bahwa pandangannya mendadak buram pada saat hendak menembak.

Dalam penglihatannya, sosok Soekarno tiba-tiba berpindah dari satu posisi ke posisi lain sehingga mengacaukan konsentrasinya.

Peristiwa yang terjadi pada Mei 1962 ini semakin mengentalkan keyakinan banyak pihak bahwa persenyawaan antara politik kekuasaan dan klenik merupakan praktik yang dikhidmati oleh para pemimpin republik di era modern saat ini.

Fakta tersebut tentu saja memperkuat keyakinan banyak pihak bahwa kuatnya kekuasaan Soekarno pada masa itu tidak hanya ditopang oleh intelektualisme dan kapasitas kepemimpinannya yang mumpuni, tetapi juga oleh faktor-faktor yang berada di luar rasionalitas manusia.

Jika klenik di era Soekarno dijadikan sebagai wasilah kepemimpinannya, lain lagi cerita almarhum Artidjo Alkostar semasa ia hidup.

Mantan Hakim Agung RI yang kerap disebut sebagai “algojo” para koruptor karena keputusannya yang sering memperberat hukuman di tingkat kasasi, termasuk para pejabat tinggi negara yang korup, pernah bertutur.

Dia mengaku kerap dikirimi ancaman oleh pihak-pihak yang berperkara, termasuk ancaman santet dengan mengirim fotonya ke dukun-dukun ilmu hitam di kawasan tertentu yang kental dengan praktik santet dan teluhnya.

Menanggapi ancaman santet tersebut, ia tidak ciut dan malah sempat meledek, “Jika mereka hendak menyantet saya pakai foto saya, pastilah santetnya kelas anak-anak TK.”

Artidjo memang luar biasa. Ancaman-ancaman berbasis klenik tersebut justru ia jadikan sebagai hiburan dan “vitamin” agar kinerjanya sebagai aparat negara semakin tajam dalam menegakkan hukum terhadap para pelanggar.

Fakta inilah yang membuat namanya “harum” sebagai penegak hukum yang keras dan berani dalam menjalani prinsip hidup.

Orang-orang Barat, khususnya orang Amerika dan Eropa, terkesan lebih intelektual dan jenius dalam menyingkirkan lawan-lawan politik dan bisnis mereka. Berbeda dengan Indonesia yang cenderung menggunakan praktik berbasis klenik atau perdukunan.

Mengutip buku The Confession of an Economic Hit Man karya John Perkins tahun 2004, lawan politik kerap disingkirkan dengan tiga cara: infiltrasi bandit ekonomi, mengirim Jackal (pembunuh bayaran), serta invasi militer.

Jika kita menilik sebentar secara cermat pada kematian Hugo Chavez—pemimpin kharismatik Venezuela yang anti-AS pada 2013, Chavez, yang merupakan mantan komandan militer, sangat terkenal sebagai presiden yang konfrontatif dan tak segan menyerang AS di panggung-panggung internasional.

Ia meninggal karena penyakit kanker misterius yang dideritanya dua tahun sebelumnya.

Jika pun AS bermain dalam kematian Chavez, seperti teori-teori dan dugaan konspirasi yang berkembang, pastilah penyebabnya bukan karena ulah dukun-dukun tenung di negeri Abang Sam tersebut.

Jangan Takut

Masuknya santet ke ranah politik dan kekuasaan adalah suatu hal yang nyata, kendati sulit dibuktikan secara empiris dan rasional.

Dalam perspektif sosial dan politik, ketergantungan para pelaku dunia politik terhadap klenik menggambarkan bahwa mereka belum sepenuhnya matang dalam berpolitik dan meluruskan tujuan bahwa sejatinya politik adalah memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat dan umat.

Para pelaku politik seperti ini cenderung menjadi figur-figur yang lemah akal dan kosong nurani, terjebak dalam praktik irasional destruktif untuk menutupi pelanggaran dan kesalahan, menghindari sorotan karena lemahnya kinerja dan integritas, hingga melanggengkan praktik korupsi dan penyimpangan kekuasaan yang dilakukan.

Para pemimpin dan anggota Ombudsman tidak perlu takut akan adanya serangan balik dari pihak-pihak yang merasa tidak senang dan kepentingannya terganggu, termasuk mereka yang potensial akan menggunakan praktik-praktik klenik untuk tujuan destruktif.

Selama niat mulia dan spirit pengabdian kepada bangsa dan negara itu masih dikandung badan, Tuhan Yang Maha Kuasa akan selalu memberikan perlindungan untuk keselamatan dalam jalan pengabdian yang mereka tempuh.

Satu hal yang pasti, seluruh rakyat Indonesia akan selalu berada di belakang mereka untuk memberikan dukungan.

Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan ini. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.